Mamah
adalah manusia yang aku kira ketika Allah menciptakannya ada salah satu unsur
yang sangat spesial dikaruniakanNya untuk MAMAh. Karena seorang mamah mampu
tetap tersenyum, tertawa, berbicara dengan nada yang ceria walau sebenarnya dia
dalam posisi yang terhimpit dan terjepit. Mamah juga mampu menahan air matanya
walau dia tak dapat menahannya. Mamah mampu menguatkan dan memotivasi suami dan
anak-anaknya yang sedang pesimis dalam hidup walau sebenarnya dia lebih
merasakan banyak kehawatiran dalam hidupnya yang tak pernah mau dia ceritakan
kepada keluarganya. Mamah lebih suka melihat suami dan anak-anaknya tersenyum
dan tetap semangat dalam hidup yang terbatas ini. Dia tak mau membiarkan
dirinya menjadi beban bagi keluarganya.
Sejak
seorang wanita menikah dan memiliki anak, dan biasa dipanggil mamah oleh
anak-anaknya dari sanalah dia belajar untuk lebih banyak mendengarkan daripada
berbicara, lebih banyak memperhatikan daripada diperhatikan, lebih banyak
mengerti daripada dimengerti, lebih banyak tertawa untuk membungkus kepiluan
hatinya. Itu lah dia mamah.
Disaat
seorang anak merasakan marah secara sadar ataupun tidak anak menumpahkan emosi
nya kepada mamah. Dan tanpa rasa malu, ketika dia merasa butuh dia kembali lagi
kepada mamahnya. Dan seorang mamah tetap dengan sabar melayani setiap kebutuhan
anak-anaknya walau kadang dengan luka yang tergores akibat perkataan anaknya.
Seorang
mamah akan lebih sensitive ketika suami dan anak-anaknya berbicara kepadanya
dengan nada yang keras. Dia merasakan tamparan yang luarbisa sakitnya ketika
hal itu terjadi, hatinya sakit dan terluka namun dia tetap diam dalam lukanya.
0 komentar:
Posting Komentar