Menangis
sejadi-jadinya dan merasa sesak di dada itulah yang dirasakan kakak perempuan
Ms.fire. bukan malam ini saja sebenarnya malam-malam kemarin juga sama itu yang
sesak yang dirasakan oleh kakaknya akibat tingkah laku Ms.fire.
Ms.fire sering
membentak kakaknya jika kakaknya menyuruh ia untuk tidak tidur pagi, dan ia
juga sering bilang kakaknya bawel jika kakaknya meminta bantuan Ms.fire untuk
merapikan rumah. Karena setiap harinya kakak perempuan Ms.fire harus mencuci
satu bak besar pakaian kotor, mencuci piring, menyetrika, nyapu, ngepel, serta
membantu ibunya di warung nasi. Sementara Ms.fire setiap harinya setelah bangun
tidur ia hanya akan tidur kembali sampai waktu dzuhur tiba setelah itu ia makan
tanpa rasa malu setelah kenyang ia masuk kembali ke kamarnya bersantai sambil
sms juga teleponan dengan pacarnya sampai waktu ashar, lalu ia keluar dari
kamarnya untuk menonton tv sampai magrib tiba ia baru mandi setelah itu ia
lanjut nonton sampai ia ngantuk untuk tidur. Itulah pekerjaan Ms.fire setiap
harinya ia tidak pernah mau membereskan rumah kecuali jika disuruh itu juga
harus ada percekcokan mulut dulu baru ia mau mengerjakan dengan rasa kesal di
dalam hatinya.
Itulah
yang membuat kakaknya kadang marah melihat kelakuan adiknya, belum lagi ketika
kakaknya meminta bantuan Ms.fire malah menentang dan tidak mendengarkan ucapan
kakaknya. Kakanya memang belum bisa sabar seperti ibunya, ia masih kadang
terbawa marah atas ucapan adiknya yang menyakitkan hatinya yang sering pula
Ms.fire mengusir kakaknya “Balik aja lo sana ke Bandung! Ngapain lo pake
disini, ga ada lo hidup w damai, ada lo hidup w berantakan, bawe banget si lo!
Kata-kata itu yang menyakitkan hati kakaknya. Padahal kakak perempuan Ms.fire
sangat jaranng berada di rumah karena dari tsanawiyah sampai kuliah ia selalu
berada jauh dari rumahnya. Tidak seperti Ms.fire ia tidak mesantren jadi dia
selalu dirumah.
Diakui
kakaknya rumah bukanlah menjadi tempatnya beristirahat ketika liburan datang.
Maklum kakaknya memang Cuma ada dirumah ketika liburan sekolah dan sekarang
liburan 3 bulan kuliah genapnya. Tak banyak yang diinginkan oleh kakaknya
selain mendapat ketenangan ketika ia berada dirumah karena keberadaannya sangat
jarang sekali.
Sebenarnya
liburan kali ini ia tak mau berdiam dirumah, karena semua gambaran pertengkaran
dengan Ms.fire telah terbayang. Dan itu membuatnya malas untuk berlibur
dirumah, tapi lagi-lagi ia tetap harus pulang, sebagai anak pertama ia merasa
bertanggungjawab penuh untuk membantu ibunya dirumah. Karena walaupun Ms.fire
telah menginjak usia 15 tahun ia masih belum bias merapikan rumah dengan baik
dan cekatan tidak seperti kakaknya.
Celakanya
rencana kakaknya untuk mencari kerja sambilan untuk tiga bulan ini tidak
didapatkannya, ia terpaksa terpenjara dalam rumah bersama semua ucapan-ucapan
Ms.fire yang dirasanya cukup menyakitkan.
Puncaknya
dimalam ini, tepat 2 minggu sudah kakaknya berlibur dirumah. Dan mala mini juga
ia menangis sejadi-jadinya. Ia datang kepada Allah melalui doanya. “Ya Allah
aku tak bisa sekuat mamah menghadapi adikku, maka kuatkanlah aku, ikhlaskanlah
sabarkanlah aku menghadapi adikku, berikanlah adikku kelembutan hati dan
kelembutan dalam ucapannya, Ya Allah bantu aku untuk mencari solusi untuk bisa
menghadapi adikku. Amin.
Dengan
perasaan yang masih sesak kakaknya pun mencoba untuk mengambil nafas dan
menghembuskannya kembali dengan pelan-pelan sampai ia merasa tenang dan
kakaknya pun bisa tertidur dalam tetesan air mata yang masih tersisa di ujung
matanya.