Cahaya memenuhi setiap ruang kosong



Suatu ketika seorang kiai yang memimpin sebuah pesanteran berencana segera meregenerasikan pesantren. Siapa saja yang bisa mengisi penuh gudang pembendaharaan pesantren boleh mendaftarkan diri sebagai calon penggantinya.
Tampilah santri pertama. Dengan sigap gudang ia bersihkan, kemudia ia isi barang-barang: meja, kursi, rak buku, lemari, computer, dan sebagainya. Setelah itu ia berkata, “Kiai, gudang perbendaharaan pesantren sudah aku isi penuh,” bangganya.
Kiai memeriksa gudang dan berkata, “kenapa engertianmu tentang makna ‘penuh’ bernuansa materealisitis dan empiristis. Sesungguhnya, di antara rak meja buku dan computer yang kamu beli dengan mahal itu masih ada tempat kosong. Aku menginginkan tempat ini penuh sesak. Ta ada ruang untuk iblis dan setan bersembunyi dan menjulurkan lidahnya kepada kita. Kamu gagal mengungkap arti isi sepenuh-penuhnya.
Jawaban itu membuat si santri kebingungan. “Apa maksud Kiai?” pikirnya.
Tampilah santri kedua, gedung dibersihkan dan diisi uang lima puluh ribuan dan seratus ribuan. Setelah selesai santri kedua ini mendatangi Kiai.
“Kiai, aku telah mengisi gudang perbendaharaan pesantren dengan uang. Gudang itu telah penuh sesak, apabila kita membelanjakan uang itu dengan barang-barang kecil wujudnya tetapi mahal harganya seperti handphone, gudang itu akan tak sanggup menampung, selama ini Kiai tak bawa handphone, padahal itu penting untuk komunikasi.”
Kiai menolak pemaknaan santri kedua dengan berkata, “Apakah santri-santri akan kamu suruh memakan uang dan memeras uang utnuk minum. Sungguh kamu terjebak dalam memberikan arti ‘isi penuh’ secara rasional instrumentalis. Sebaiknya ketika kamu shalat bacaannya diganti, bi ismi al-fulus ar-rahman ar-rahim, dengan menyebut nama uang yang maha pengasih dan maha penyayang.”
Santri kedua pergi dengan setumpuk malu.
Sekarang tampilah santri ketiga, santri ini membersihkan ruang sampai benar-benar mengkilap. Setelah itu dia menyalakan lampu. Dengan lampu yang memancarkan cahaya ini maka taka da sisa bagi ruangan yang kosong itu selain cahaya yang bekerja sepenuhnya. Tak pernah cahaya itu berhenti bekerja. Tak pernah cahaya itu tidak bersinar. Matahari tak pernah berhenti bersinar ketika malam tiba ia bukanny atidak bersinar, melainkan memnerangi belahan bumi lain. Oleh karena itu, dari sudut pandang matahari, ia tak pernah tenggelam. Ia selalu terbit.
Pak Kiai tersenyum. “Allah Nur as-samawat wa al-ardh...... Allah cahaya langit dan bumi.....”
Inilah yang dimaksud meminjam bahasa Damardjati Supadjar, “wudhu konsepsional dan eksistensial”. Ketika gudang bersih itulah momentum la ilaha dan ketika gudang penuh cahaya itulah momentum illa Allah.

0 komentar: