curhatsidia



17 februari 2015
Malam ini aku begitu merindukanmu, aku tak paham mengapa bisa terlalu merindu. Kupinjam kembali handpone adikku karena dia memiliki kartu operator yang sama denganmu. Tak masalah setiap malam harus membeli paket untuk telepon yang penting rinduku terobati.
Aku masih ingat ucapanmu sewaktu itu kamu bilang tak masalah jika dalam cinta orang-orang sering tak menggunakan logika begitulah inti ucapanmu yang aku ingat.
Dan saat malam ini aku merindukanmu aku mulai memahami bahwa rindu ini tak perlu ditanyakan mengapa terasa terlalu merindu karena disana cinta berperan tanpa logika.
Malam ini aku hanya ingin mencurahkan kerinduanku dengan sedikit berbicang tentang hari – hari yang begitu membosankan untukku lalui. Tapi ternyata tak sesuai dengan yang aku harapkan.
Dirimu sepertinya lupa dengan apa yang sudah kau ucapkan waktu itu. Dengan berkata padaku kita kan sudah dewasa, maka berdewasalah dalam cinta dan rindu.
Sungguh saat itu aku tak mengerti apa maksud perkataanmu. Sejenak aku jadi berpikir apa maksud berdewasalah?? Karena malam ini aku begitu merindu dan tak bisa kugunakan logikaku sehingga tak dapat ku berpikir berdewasa dalam cinta dan rindu.
Aaah.. aku benci,,, kau sungguh pintar memutar balik kata kau mempermaikan perasaan dan pikiranku. Saat waktu dulu kau bertingkah seperti anak smp yang sedang dilanda rindu dengan segala tingkahmu , dan aku berkata padamu jangan bersikap seperti itu , jangan terlalu mencinta dan merindu. Tapi kau bilang tak ada waktu bagi cinta untuk menggunakan akal nya untuk berpikir bagaimana bersikap ketika rindu tiba. Ketika ada rasa cinta, seseorang seringkali tak menggunakan logikanya untuk bersikap dan berucap. Semua unsur raga tunduk kepada cinta.
Tapi malam ini aku kecewa, mendengarmu menyuruhku untuk dewasa menyikapi cinta dan rindu tak cuman itu kau bilang padaku untuk merekayasa rasa sesuai dengan tempat dimana ku berada.
Baiklah.. itu permintaanmu, dan hari ini aku berterimakasih padamu telah mengembalikan sikapku dalam menangani cinta, mulai hari ini segala tentang cinta akan ku perhitungkan dengan logika hal-hal yang tak perlu ku ucapkan dan ku lakukan tak akan ku lakukan.
Jangan bertanya mengapa aku berubah padamu, kau yang meminta padaku untuk berlaku seperti ini. Aku tak bersikap dingin padamu tapi aku melogikan hal-hal yang perlu ku lakukan dan tidak ku lakukan.

18 February 2015

Pagi ini di warung nasi mamahku, kembali aku ditegur dengan logika cintaku. Kali ini dan mulai tadi malam cinta tak perlu menggunakan hati, karena hati begitu lemah maka logikalah yang akan memegang kendali cinta.
Aku teringat tentang sosokmu yang begitu baik tapi dilain sisi sering juga aku berpikir tentang sisi lain darimu, kamu yang masih saja dengan sikapmu aku tak melihat sosok pemimpin dalam dirimu, yang kulihat sosok ketua yang sangat angkuh dan bersikap pragmatis serta memetingkan keuntungan diri sendiri. Lalu dalam dirimu ada jiwa partiarki yang begitu kuat terbukti dengan sampai seumur 22 tahun kamu masih bergantung kepada orang lain untuk mencuci pakaianmu, kamu masih memilah ini pekerjaan perempuan dan tak pantas laki-laki melakukannya.
Kau harus tau aku seorang feminis, dalam hidup perempuan aku telah mempelajari bagaimana islam begitu indah dalam memperlakukan perempuan. Tak pernah ada dominasi dalam ayat mana pun bahwa laki-laki lebih superior dan perempuan interior. Keduanya sama, kedudukan yang sama Cuma takwa yang membedakan. Bahkan taka da satu dalil pun ku temuka yang mejelaskan tentang pembagian tugas bagi perempuan dan laki-laki.
Laki-laki dan perempuan keduanya sama harus bisa terjun di ranah domestik dan public. Kedua jenis manusia ini harus sama-sama memiliki rasa saling membantu dan saling melengkapi. Bahkan hakikat pernikahan adalah ikatan lahir batin yang mendeskripkan adanya kesalingan dalam ikata lahir batin tersebut.
Selain itu, aku tak suka dirimu yang begitu menjadi sosok fundamentalis agama. Islam itu ramah bukan penuh marah. Islam rahmat bagi semesta alam ayat-ayat yang diturunkan adalah untuk mengajarkan tentang keramahtamahan islam. Aku tak suka kau sering bilang ini dosa itu haram ini kafir itu sesat . tak kau tau benar sosok dari sesuatu yang kau justifikasi itu.
Kau hanya mendengar katanya, katanya dan katanya. Dan dengan logika dan pengetahuan yang terbatas kau berani bersikap seperti itu.
Aku juga sama diriku masih jauh diatas sempurna, dan itu yang menjadi perisai bagiku untuk berperilaku.
Jika dirimu masih saja begitu, aku tak akan pernah bisa memilihmu untuk bersanding denganmu. Aku tak pernah sedikitpun menaifkan kebaikanmu aku terima dan aku berterima kasih untuk semua itu.
Karena membangun keluarga tak cukup hanya dengan baik. aku butuh laki-laki yang bisa memimpin aku dan anak-anakku dengan arif dan bijaksana mengajarkan dan menuntun kami menuju hidup yang penuh makna. Karena pernikahan tak cukup dengan cinta. Aku ingin pernikahanku hidup dengan keberkahan dan karya serta abdi nyata bagi kehidupan di bumi ini. Agar aku siap untuk mempertanggungjawabkan semua di akhirat nanti, tentang tugas khalifah ku di bumi ini.
Aku tak ingin hanya sekedar hidup dan Berjaya untuk diri sendiri.
Hakikat manusia diciptakan untuk menjadi khalifah di muka bumi ini, serta menyembah kepada Nya.
Dan aku sudah seringkali mengingatkanmu untuk berubah tapi kamu malah harehare.
Ga ada yang bisa diharapkan.